Home » Travelling » Recognizing Matsuyama From The Street

Recognizing Matsuyama From The Street

“Tulisan ini adalah tulisan yang akan di muat dalam buku PPI Ehime University”

Sebelum terbang ke Jepang, Osozawa sensei[1] yang menjabat Direktur Asia Africa Center, Institute for International Relations, Ehime University, memberikan satu pertanyaan sederhana pada kami semua.

“Apa yang ingin kalian pelajari di Jepang?” Wajahnya menatap kami satu persatu. Hari itu saya menjawabnya dalam tiga lembar tulisan. Salah satu yang pasti adalah saya sangat ingin mempelajari budaya Jepang. Tidak akan sama rasanya, membaca buku dan mempelajari budaya suatu negara di negara yang bersangkutan. Program short course[2] di Ehime University akhirnya telah memuaskan rasa ingin tahuku tentang budaya negeri Kaisar Meiji ini.

Mengenang Kota Matsuyama, berarti membuka ribuan gambar yang pernah terekam oleh mata, hati, otak dan tentu saja kameraku. Sebanyak 45 GB space di notebook milikku hanya terisi oleh “kenangan” ketika aku mengunjungi Matsuyama di Ehime Prefektur, Jepang. Ada lebih dari 7000 gambar yang mampu bercerita tentang Ehime dari semua sudut, terutama Kota Matsuyama. Terletak di antara dataran tinggi Shikoku dan Setonaikai (Seto Inland Sea, laut pedalaman yang hanya satu-satunya di dunia), Matsuyama merupakan kota terbesar di Pulau Shikoku. Berada tepat di tengah daratan Prefektur Ehime. Dalam peta Jepang, kota ini terletak di 132046’ Bujur Timur dan 33o50’ Lintang Utara, berbeda 7o timur dari Tokyo. Selisih itu menyebabkan waktu terbit dan terbenamnya matahari di Kota Matsuyama menjadi lebih lambat 28 menit dari Kota Tokyo. Daratan Matsuyama terbentuk dari dua aliran sungai utama, yaitu: Sungai Shigenobu dan Sungai Ishite yang mengalir di antara Pegunungan Takanawa ke arah timur laut dan Pegunungan Ishizuchi ke arah tenggara.

Sangat menyenangkan aku bisa menghabiskan waktu 2 bulan di kota ini. Banyak hal yang kupelajari dan tentunya sangat menarik untuk dicermati. Satu hal yang paling menarik perhatianku adalah ikatan yang kuat antara orang-orang Jepang dan seni didalam kehidupan mereka. Seni adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang-orang Jepang. Seni, dapat ditemukan dimanapun dan dalam bentuk apapun, seperti: arsitektur bangunan, makanan, pakaian, lukisan, bahkan dalam wujud yang tidak terpikirkan.

 

Arsitektur Bangunan

Kota Matsuyama adalah perpaduan antara kata ‘ancient’ dan ‘contemporer’. Dua kata ini merujuk pada arsitektur bangunan-bangunan yang memadati kota ini. Lihatlah Matsuyama Castle[3] di atas bukit sana, dan nikmatilah keanggunan sebuah kastil kuno yang seolah-olah berada di atas awan. ‘Saka no ue no kumo’, begitulah anak cucu bangsa Mongolia ini menyebutnya. Melangkahlah ke kawasan Dougo, disana akan mudah ditemui salah satu pemandian air panas (hot spring) tertua di Jepang, di bangun sekitar 300 tahun yang lalu. Dougo Onsen Honkan, bangunan yang menjadi simbol perpaduan antara arsitektur Jepang dan Eropa. Onsen yang menjadi latar belakang pembuatan novel Botchan oleh novelis Soseki Natsume ini adalah tempat kaisar-kaisar Jepang dulu menghabiskan waktu mereka memanjakan diri dengan ofuro (mandi berendam dengan air panas, biasanya dilakukan pada malam hari sebelum tidur). Namun, bangunan dengan gaya kontemporer pun banyak berdiri di Kota Matsuyama. Pada umumnya pusat perbelanjaan dibangun dengan gaya kontemporer. Beberapa museum pun dibangun dengan gaya kontemporer, misalnya museum Saka no Ue no Kumo dan museum arkeologi.

 

Makanan

Dalam urusan makanan orang Jepang menganut paham ‘me de taberu’ atau makan dengan mata. Dalam hal ini morfologi makanan merupakan salah satu hal yang paling penting dan sangat diperhatikan oleh orang Jepang. Tengoklah kue-kue dan makanan yang dijajakan oleh mereka, maka akan ditemukan seni yang mengenyangkan di dalamnya.  Orang Jepang sangat mengerti bahwa kesan pertama begitu menggoda, sehingga makanan yang mereka jual dan pajang di toko dibuat secantik dan semenarik mungkin. Tentu saja akan menggoda mata dan dompet para pembeli.

 

 

Manhoru

Dari semua hal yang aku alami, rasakan dan pelajari selama menjadi warga Kota Matsuyama, ada satu hal yang sangat menarik perhatianku. Satu wujud seni yang membuatku yakin bahwa mereka memang memiliki selera seni yang tinggi. Bagi orang lain hal ini mungkin sama sekali tidak menarik, tetapi bagiku keberadaannya begitu amazing[4]. Setiap kali kulangkahkan kaki di jalan-jalan Kota Matsuyama, selalu ada sesuatu yang membuatku melihat ke bawah. Manhoru dalam bahasa mereka atau manhole dalam bahasa Inggris, yang berarti lubang got dalam bahasa kita. Lubang got? Lalu apa hubungannya lubang got dengan seni dalam kehidupan orang Jepang? Karena itulah hal ini menjadi menarik perhatianku.

Coba sejenak pikirkan bagaimanakah wujud lubang got yang ada di kota-kota Indonesia. Pada umumnya lubang got tersebut hanya terbuat dari beton persegi panjang dengan besi pada kedua ujungnya. Sebaliknya lubang got di Matsuyama (dan kemungkinan besar di seluruh Jepang) sangatlah cantik dan menarik. Berbentuk lingkaran, terbuat dari baja, dan diatas manhoru ini tercetak gambar bunga tsubaki (camellia), bunga khas kota Matsuyama yang dikelilingi tulisan ‘Matsuyama’ dalam huruf hiragana. Pada manhoru yang lain aku menemukan kata ‘minna de tsukurou’ yang artinya kurang lebih ‘ayo semua berbuat’, mungkin maknanya mengajak semua penduduk kota untuk berbuat yang terbaik bagi Kota Matsuyama. Menarik bukan? Sesuai dengan peruntukannya, sebenarnya lubang got ini tidak harus secantik itu. Fungsinya hanya untuk menutupi got saja. Namun lihatlah betapa cantik dan menariknya lubang got Matsuyama. Begitu menariknya sampai membuatku sering berhenti di tengah jalan hanya untuk mengamati dan memotret manhoru ini, satu hal yang tidak pernah kulakukan di Makassar. Pada akhirnya, manhoru inilah yang menjadi tema presentasi akhirku di Ehime University.

Apa yang mereka lakukan pada manhoru adalah suatu cara yang sangat manis, namun sederhana. Seni yang bisa membuat orang-orang yang datang ke Kota Matsuyama mengenal kota ini, tidak hanya ketika melihat ke atas bukit tempat Matsuyama Castle berdiri atau mengunjungi Dogo Onsen. Lebih dari itu mereka akan merasakan Matsuyama di setiap langkah di jalan-jalan Kota Matsuyama. Mereka akan segera tahu bahwa mereka sedang menginjakkan kaki di kota bernama ‘Matsuyama’; bahwa Matsuyama itu tentang bunga tsubaki, Matsuyama Castle, dan Dogo Onsen.  Belum lagi jika mereka berjalan di Gintengai dan pusat perbelanjaan Okaido, mereka temukan lebih banyak lagi identitas Kota Matsuyama terlukis di atas jalan-jalan tersebut, seperti: gambar Matsuyama Castle, Dogo Onsen, kereta Botchan (replika kereta kuno untuk berwisata keliling kota), jeruk Ehime yang terkenal manis, bahkan peta kota Matsuyama itu sendiri. Hal tersebut menjadi bukti bahwa orang Jepang memang memiliki selera seni yang tinggi dan mereka menginginkannya berada dalam setiap sisi kehidupan mereka hingga di bawah kaki mereka sendiri. Ini maksud dari recognizing Matsuyama from the street.

Akhirnya, ijinkanlah aku memanjatkan doa kepada Tuhan agar Dia memberiku kesempatan untuk menginjakkan kaki kembali di Kota Matsuyama, menikmati kota ini dengan bersepeda, mengejar kereta Botchan nan antik, merasakan manisnya jeruk Matsuyama, menatap kembali keindahan Matsuyama Castle, menikmati indahnya bunga sakura di Dogo Koen, atau merasakan dinginnya salju di Gunung Ishizuchi. Semoga.

 

[1] guru

[2] pendidikan atau pelatihan singkat (Januari-Maret 2010).

[3] kastil

[4] menakjubkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s