Home » Travelling » Watashi No Nikki (1 Februari 2010)-Seri tulisan trip ke Jepang

Watashi No Nikki (1 Februari 2010)-Seri tulisan trip ke Jepang

Pagi pertama di bulan Februari. Alhamdulillah bisa sholat subuh tepat waktu, meski setelah sholat aku memutuskan untuk kembali meringkuk di bawah futon yang hangat. Opening Ceremony bersama Rektor Ehime University. Acaranya jam 2 siang. Rencananya, kami dijemput Akito untuk mengantar kami ke kampus. Akito menjemput jam 10.40. jadi masih ada banyak waktu untuk tidur hehehehe…
10.40 tepat, kami di jemput oleh Akito. Gerimis mendekati deras. Akito menyarankan kami membeli payung atau jas hujan. Karena hujan di Jepang itu berbahaya,hujan di Jepang adalah hujan asam. Karena untuk ke kampus kami akan berjalan kaki, maka Akito sekalian mengajak kami untuk membeli payung atau jas hujan di Gintengai, sebuah kawasan Shopping Centre, tepat di depan Takashimaya. Gintengai sebuah kawasan pusat perbelanjaan yang di desain apik dan nyaman bagi pengunjung. Gintengai adalah dua jalur pertokoan yang disatukan oleh satu pedestrian bagi pengunjung yang di buat di antara toko-toko yang berjejer. Dan untuk kenyamanan dan perlindungan dari hujan dan panas matahari, di jalur bagi pengunjung di beri atap permanen berbentuk setengah lingkaran. Nyaman dan menyenangkan berada di Gintengai. Apalagi kawasan Gintengai begitu rapih dan bersih, sehingga pengunjung pun senang dan betah berbelanja di sini. Tampilan-tampilan tokonya pun menarik dan cantik. Ada begitu banyak toko di Gintengai yang menjual beribu-ribu item. Selain toko-toko pakaian, buku, kebutuhan sehari-hari, pernak-pernik lucu, sepatu, dan banyak lagi, warung-warung makanan tradisional Jepang pun ada di Gintengai. Menariknya, contoh-contoh makanan yang tersedia di warung ini di buat menggunakan malam (parafin) dan di buat menyerupai aslinya. Bahkan kita tidak bisa membedakan, apa ini benar-benar makanan atau hanya sample makanan yang terbuat dari lilin??bikin ngiler heheheheh….
Aku dan diah membeli payung yang cantik, aku tentu saja memilih warna merah. Harganya 425 Yen, mahal sekali untuk ukuran sebuah payung.ini akan menjadi payung termahal yang pernah ku beli selama hidupku heheheh.. Menyusuri Gintengai, aku masih merasa seperti mimpi bisa berada di sini. Orang-orang keturunan ras Mongolia ini berseliweran di dekatku, berbicara dengan bahasa mereka yang tidak saya mengerti sama sekali, atau mungkin belum saya mengerti,suatu saat nanti saya pasti bisa mengerti dan berbicara bahasa mereka.
Di Indonesia, kita mengenal Toko Serbu (Serba Sepuluh Ribu), dimana “hampir” semua barang-barang yang dijual harganya sepuluh ribu rupiah. Di seluruh Jepang, tidak terkecuali di Matsuyama pun ada toko semacam itu. Namanya Hyaku en Shop ( Toko Serba 100 Yen), semuanya 100 yen. Di Gintengai dan Okaido ada 3 toko semacam itu. 2 berada di Okaido dan satu berada di Gintengai. Ada ratusan item di jual di Hyaku en Shop, tapi hampir semuanya adalah produk-produk Made in China, pantas saja murah hehehe…
Hyaku en Shop di Okaido adalah tujuan kami. Akito menyarankan kami untuk membeli jas hujan juga, persiapan untuk bersepeda waktu hujan. Kami memang di janjikan akan dibagikan sepeda hari ini dari Institute of International Relation Ehime University, institusi yang mengakomodasi semua keperluan kami dan mengatur semua jadwal kami selama mengikuti program ini. Hyaku en Shop yang kami tuju adalah Hyaku En Shop yang berada di Okaido, karena menurut Aki, Hyaku En Shop ini yang paling lengkap, letaknya berada di ujung Okaido setelah Gintengai dari arah Matsuyama Shieki (Stasiun Bus dan Kereta Api utama).
Hyaku en Shop yang kami tuju adalah sebuah toko kecil berukuran kira-kira 2,5 x 6 meter. Di bagian depan toko berderet rak-rak berisi cemilan, slipper (sandal rumah), tas-tas karton dan plastic yang menarik. Setelah deretan rak-rak tersebut, ada meja kasir yang saat itu di jaga oleh seorang wanita tua, mungkin pemilik toko. Ketika melihat kedatangan kami, wanita tersebut langsung mengucapkan “Irasshaimase” artinya selamat datang. Ramah sekali penjualnya, pikirku. Aku berkeliling sebentar mengamati isi toko Hyaku en tersebut. Isinya bermacam-macam, dari ikat rambut sampai mangkuk untuk makan. Saya jadi ingat pesan kak yuyi dan Agnes sensee sebelum kami berangkat ke sini, bahwa sampai di sana langsung cari Hyaku en Shop, karena hampir semua kebutuhan rumah tangga ada di sana dengan harga yang murah. Puas berkeliling, karena tidak bisa terlalu lama, kami langsung mencari barang tujuan utama kami, jas hujan, lagian kami masih punya banyak waktu untuk mengunjungi toko ini kapanpun kami mau.
Jas hujan sudah kami dapatkan, harganya.. 100 yen, buatan China. Produk China memang membanjiri pasaran dunia, tidak terkecuali Jepang. Setelah membayar pada kasir, kami berlalu di iringi ucapan Arigatou Gozaimashita dari ibu yang menjaga hyaku En Shop tersebut.
Okaido ternyata tidak sepanjang Gintengai. Ujung Okaido langsung berhadapan dengan perempatan jalan utama. jalan utama yang di lintasi jalur trem. Saya belum tahu ke arah mana jalan-jalan tersebut, dan ke arah mana kampus Ehime. Lampu sedang menyala merah untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda. Di sini zebra cross betul-betul digunakan. Orang-orang hanya menyebrang pada zebra cross. Pejalan kaki dan pengguna sepeda memiliki jalur sendiri. Trem dan bus silih berganti melintas di hadapan kami. Berdiri di jalan ini, benar-benar masih seperti mimpi bagiku. Beberapa hari yang lalu kami masih disibukkan dengan segala tetek bengek perjalanan kami ke Jepang, dan sekarang, kami di sini, berdiri di salah satu sudut kota Matsuyama…mungkin tidak akan ada kata yang sesuai untuk menggambarkan bagaimana perasaan kami. Lampu menyala hijau, langkah kaki yang terburu-buru memenuhi jalan, pria-pria berjas dan wanita-wanita super modis nan harajuku style namun bersepeda melintas dengan santainya di dekat kami. Di Indonesia mungkin tidak akan kami dapati pria berjas rapih tapi mengayuh sepeda. Benar-benar membuat kami menggeleng-gelengkan kepala.
Hujan masih betah mengguyur kota Matsuyama, dan kami pun masih betah berjalan kaki menuju kampus. Melewati deretan toko-toko di sepanjang kawasan Jouhoku. Berderet dengan rapih dan menarik, toko-toko yang menjual berbagai macam souvenir khas Jepang, tas, pakaian, makanan bahkan toko perhiasan. Melewati pintu gerbang menuju Matsuyama Castle, ada semeteran jalan kecil namun di lengkapi traffic light. Hal kesekian yang membuat kami kagum. Jalan kecil yang hanya berukuran semeter lebih dan tidak terlalu di padati kendaraan namun dilengkapi dengan traffic light, memperlihatkan begitu pentingnya keamanan orang-orang di jalan-jalan kota ini.
Lampu hijau memberi kami izin untuk melintasi jalan kecil itu, melanjutkan perjalanan kami menuju kampus utama Ehime University, dengan tetap berada di bawah guyuran hujan dan udara dingin yang menggigit. Dan…lampu merah lagi, di perempatan jalan yang jujur saya tidak tahu namanya apa. Kembali kami harus menunggu si hijau mengijinkan kami melintasi jalan di depan kami. sejak dari apartemen, kami sudah melewati 12 lampu merah, mulai dari jalan di dekat apartemen kami sampai di tempat kami berdiri saat itu, entah akan ada berapa lampu merah lagi yang harus kami lalui sebelum sampai di kampus Ehime University. Namun, hal ini justru membuat kami merasa begitu aman dan nyaman berada di jalan-jalan kota ini, kota yang belum cukup seminggu kami kenal. Aku mulai menyukai kota ini.
Melanjutkan petualangan singkat kami menapaki jalan-jalan di Matsuyama, didepan kami jalur trem membelah perempatan jalan, saat itu jalur trem sedang kosong sehingga kami bisa terus menapaki jalan menuju kampus Ehime University. di sebelah kanan kami terdapat sebuah gedung besar yang dari lambang red cross yang terdapat di bagian depan gedung menandakan bahwa gedung tersebut adalah sebuah rumah sakit, kemungkinan besar Matsuyama City Hospital. Kurang lebih 20 meter setelah perempatan, terdapat bus stop, aku tidak bisa membaca rute-rute yang ada, maklumlah kemampuan ku untuk membaca aksara Jepang Hiragana dan Katakana masih sangat minim, ditambah lagi huruf kanji mendominasi informasi yang ada, aku tiba-tiba menjadi seorang yang buta huruf di kota ini.
Menjejakkan kaki di salah satu sudut kota Matsuyama membawa euphoria tersendiri bagiku. Masih begitu segar dalam ingatanku, sarapan pagiku bersama Ososawa sensee di sebuah hotel di kota Makassar. Waktu itu sensee memintaku menemuinya untuk membicarakan proposal yang harus kami susun untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi kami mengunjungi negeri para samurai ini. Aku bahkan masih ingat menu sarapan pagi yang di pesan sensee waktu itu. Makanan favoritnya, semangkuk Coto Makassar, sedang aku sarapan dengan semangkuk bubur Menado yang sensee pesankan untukku. Sarapan pagi itu terjadi tahun lalu di bulan September. Dan sekarang, kami sudah berada di salah satu kota di Negeri Geisha, menapaki jalan-jalanya, menghirup oksigennya, dan mencoba bertahan dari dingin yang mengigit di penghujung musim dingin..Subhanallah..!!!
Lamunanku membawaku memasuki gerbang utama Ehime University, yang ternyata sudah pernah aku lewati dihari kedua kami di Matsuyama, hari ketika kami mengunjungi Matsuyama Castle sepulang dari welcome party bersama teman-teman mahasiswa Ehime University. Kampus utama atau biasa disebut kampus Jouhoku terletak di kawasan Jouhoku, tepat di depan Matsuyama City Hospital. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 waktu Jepang, artinya butuh satu jam untuk berjalan kaki dari apartemen kami di kawasan metropolis Matsuyama (Metropilis karena berada dekat dengan Iyotetsu Takashimaya, Matsuyama Shieki, Gintengai dan Okaido Shopping Mall heheheh), sudah termasuk waktu yang kami butuhkan untuk membeli jas hujan di Hyaku En shop, juga menit-menit menunggu lampu hijau memberi kami izin untuk melintas.
Melewati gerbang utama kampus Ehime University, berdiri di hadapanku bangunan-bangunan berbentuk kotak berwarna abu-abu muda dan hijau, kontemporer style. Di sebelah kiri terdapat Ehime Study Centre, berdiri setinggi 4 lantai. Tiba di sebuah perempatan kecil, kami belok ke kanan, di samping kiri kami terdapat tempat parkir khusus sepeda…membuatku tidak sabar untuk mendapatkan sepeda yang dijanjikan kepada kami. Sepeda-sepeda diparkir begitu rapih dan teratur, langsung terbayang asyiknya naik sepeda menyusuri semua jalan-jalan yang aku lalui tadi, semoga saja hari ini sepeda yang di janjikan bisa segera kami dapatkan.
Aki san mengajak kami langsung ke kantin untuk makan siang. Jalan sejauh kurang lebih 4 km di bawah guyuran hujan dan suhu yang membuat tulang-tulangku serasa beku, pastinya membuat kami butuh asupan 4 sehat 5 sempurna.
Kantin kampus Ehime University terletak di sebelah timur area kampus Ehime University, bersebelahan langsung dengan koperasi kampus. Di depan kantin juga terdapat area parkir sepeda. Kantin kampus terdiri dari dua lantai. Belum terbayang seperti apa kantin kampus Ehime University. Apa seperti kantin di UNHAS??? Akan aku ketahui sebentar lagi. . Masuk ke kantin, kami berhadapan dengan ruangan yang luas dan nyaman. Karena kami datang tepat pada jam makan siang, maka kantin kampus dijubeli dengan mahasiswa-mahasiswa dengan misi yang sama…mengisi kampung tengah heheheh…
Beda…benar-benar beda. Kantin kampus Ehime University menganut paham “makanan gak datang sendiri, mau makan ya usaha”. Self service, bahasa kerennya. Tiap orang melayani diri sendiri. Di bagian depan disediakan nampan-nampan untuk makanan. Saya mengambil satu nampan dan mulai memilih-milih makanan yang kira-kira cocok di lidah dan juga Insya Allah halal hehehe… Kantin menyediakan berbagai macam makanan,mulai dari makanan pembuka seperti salad, makanan berat misal udon, ikan, udang, daging ayam, sapi dan….babi heheheh, sampai appertise pun ada. Saya pilih yang aman saja. ikan, udang dan tahu. Nasi di sediakan dalam mangkuk-mangkuk berbagai ukuran. Tinggal pilih sesuai kemampuan dan tingkat rasa lapar. Ada L, S dan SS. Aku pilih L untuk Lapar hehehehe…setelah merasa komplit, kami membayar di kasir sekaligus mengambil sendok atau hashi, aku pilih hashi, kan lagi di Jepang, jadi makannya pake sumpit donk hehehe…harga makanannya????lebih dari 300 yen, wah dengan harga segini, di Makassar aku bisa makan 3 porsi ayam lalapan di Lesehan Pak Dani hehehe…
Kantin full, sedikit susah mencari kursi kosong. Akhirnya aku memilih duduk di sebuah meja besar dengan beberapa kursi yang masih kosong. Ada 4 orang mahasiswa Jepang yang juga sedang makan siang. Karena lapar, cuek saja. Ittadakimasu..selamat makan..Bismillah!!!
Sambil makan, aku memperhatikan suasana kantin. Selain mahasiswa, aku juga melihat ada beberapa orang yang kemungkinan besar adalah dosen yang juga menikmati makanan di kantin. Kantin ramai dengan berbagai obrolan. Sepertinya orang Jepang memang senang makan sambil mengobrol. Mungkin karena itu juga, acara makan mereka bisa memakan waktu yang begitu lama. Di tengah keasyikanku menikmati makanan dan suasana kantin, aku baru sadar bahwa aku belum mempunyai minuman sama sekali. Aku kemudian mencari-cari dimana aku bisa mendapatkan air minum. Ternyata di samping kiriku, terdapat mesin sejenis dispenser. Ternyata isinya adalah teh hijau, teh biasa dan air putih. Aku memilih untuk minum ocha (teh hijau). Minuman-minuman disediakan gratis di kantin. Tapi, di bagian lain kantin juga di sediakan mesin penjual minuman untuk mereka yang menginginkan minuman selain yang disediakan gratis di kantin.
Di kantin kampus UNHAS, setiap habis makan, kita cukup membiarkan piring-piring dan gelas bekas makan kita di atas meja. Piring-piring dan gelas tersebut nantinya akan dibereskan oleh pelayan di kantin. Namun tidak begitu adanya di kantin ini. Setiap selesai makan, tiap orang membawa mangkuk-mangkuk dan cangkir bekas makan ke tempat pencucian di bagian lain kantin. Tempat pencucian tersebut terdiri dari ban berjalan untuk meletakkan mangkuk-mangkuk dan cangkir yang akan membawa barang-barang tersebut langsung ke tempat pencucian. Atau bisa juga dengan memasukkannya langsung melalui jendela-jendela kecil di atas ban berjalan. Setiap jendela memiliki gambar yang berbeda-beda. Ada jendela khusus untuk mangkuk nasi, mangkuk sop, piring lauk, sumpit dan garpu juga cangkir teh. Dan setiap orang bertanggung jawab atas alat-alat makan mereka sendiri. Sehingga tidak akan kita dapati ada mangkuk dan cangkir yang berserakan di atas meja. Keren…hanya itu yang bisa ku ucapkan.!!!
Isi nampanku sudah berpindah semua ke dalam perutku. Tegukan terakhir ocha juga mengosongkan cangkir teh ku. Kami kemudian membawa nampan kami ke tempat pencucian yang disediakan. Aki san kemudian mengajak kami kembali ke sebuah gedung. AIDAI MUSE nama gedungnya, sesuai yang tertulis di plat name di depan gedung. Terdengar seperti bahasa Perancis nama gedung ini. Pintu kaca otomatis menyambut langkah kaki kami. Kehangatan menghinggapi kami, memupus sedikit demi sedikit dingin yang bergelayut di badan kami. lobby AIDAI MUSE adalah sebuah ruangan berukuran kira-kira 5×5 meter. Ada beberapa kursi di kedua sisi lobby tersebut. Juga sebuah layar computer yang mungkin berfungsi sebagai pusat informasi bagi civitas akademika Ehime University. Juga sebuah jam yang menyatu dengan sebuah tiang di sisi lain lobby gedung. Lobby terhubung dengan lorong di sebelah kiri dan kanan. Kami menuju ke lorong sebelah kanan, menjumpai sebuah tangga menuju ke lantai 2 gedung tersebut. Anak tangga terakhir membawa kami ke sebuah lorong dengan jendela-jendela di sisi kiri lorong, menyuguhkan pemandangan bagian lain gedung tersebut. Di sebelah kanan terdapat ruangan-ruangan dengan plate name di setiap ruangan. Osozawa Katsuya tercantum di salah satu plate name di salah satu ruangan tersebut. Ternyata, ruangan sensee di gedung ini yah??? Tiba di ujung lorong, kami masuk ke sebuah ruangan yang sudah di huni dengan beberapa orang…teman-temanku dari Indonesia heheheheh….mereka ternyata sudah tiba terlebih dahulu. Beberapa diantaranya bahkan sudah memilki koleksi foto di ruangan ini..Narsis..!!!
Sadar belum menunaikan kewajiban,kencan dengan Allah, aku menanyakan kepada yang lain tempat untuk mengambil air wudhu. Toilet, jawab mereka. Baiklah, sepertinya tidak ada pilihan lain selain toilet yang bisa aku jadikan tempat wudhu. Aku kemudian mencari sebuah toilet. Letaknya sangat dekat dengan ruangan kami berkumpul. Toilet wanita dan pria terpisah. Langkah kakiku memasuki toilet tersebut terdeteksi oleh sensor lampu toilet, yang langsung menyala begitu aku melangkah memasuki toilet tersebut. Aku hanya bisa menghela nafas merasakan semua “keajaiban” teknologi ini. Jepang begitu menyadari, bahwa kita manusia sering melupakan hal-hal kecil seperti mematikan lampu dan listrik. Karenanya mereka menciptakan tekonologi seperti ini untuk mengindari pemakaian listrik yang berlebihan. Aku jadi bertanya-tanya, mungkin di Jepang tidak pernah terjadi pemadaman bergilir yah???
Apa ini???toilet kah???atau kamar rias???ini benar-benar berbeda dengan semua toilet-toilet yang pernah ku temui (di Indonesia). Aku yakin, sepulangnya ke Indonesia, standarku pada sebuah toilet akan berbeda heheheh…ada 6 bilik toilet dengan kloset jongkok otomatis, persis seperti yang ku temui di Kansai International Airport. Merknya pun sama, TOTO. Sebuah merk peralatan kamar mandi yang sangat terkenal. Bahkan di Indonesia. Hanya saja di Indonesia, type yang seperti ini belum sampai. Atau belum terbeli heheheh…toilet juga di lengkapi dengan 3 wastafel untuk mencuci tangan, juga dengan keran otomatis. Plus sebuah cermin besar di depan wastafel. Jangan membayangkan toilet yang bau dan basah. Orang Jepang tidak suka basah. Toilet-toilet di seluruh Jepang mengadopsi toilet European Style. Toilet kering istilahnya. Tidak akan kita temui bak air di setiap toilet orang Jepang. meskipun begitu, di kloset mereka tetap bisa kita temukan air untuk membersihkan diri, yang memencar keluar dari bagian dalam kloset ketika tombol di samping kloset kita pencet. Satu kesyukuran buatku dan kawan-kawan yang lain. Karena kami tidak mungkin hanya menggunakan tissue untuk membersihkan diri setiap kali memenuhi panggilan alam kami. tombol-tombol otomatis yang ada, cukup memudahkan kami untuk mengetahui fungsi dari masing-masing tombol. Karena tombol-tombol yang ada menggunakan 2 bahasa, Jepang dan Inggris, juga gambar yang informative bagi kami.
Bagaimana caranya wudhu??? Akhirnya aku wudhu di wastafel yang ada. Untuk membasuh kaki, aku menaikkan kakiku ke wastafel sambil berharap tidak ada orang Jepang yang masuk dan melihat kelakuanku. Karena mungkin saja mereka akan heran dan bertanya-tanya melihat toilet mereka “diperlakukan” seperti itu. Untungnya sampai aku selesai wudhu, aku menjadi pengguna tunggal toilet tersebut. Dan syukurnya lagi, tersedia handuk untuk mengeringkan air yang ada. Wudhu ku beres..!!!
Tidak akan kami temui satupun mesjid atau mushalla di kota ini. Artinya tidak akan aku dengar adzan berkumandang di kota ini.Termasuk di kampus Ehime University. Sholat pun ku tunaikan di ruangan tempat kami berkumpul. Aku menghela nafas, seperti ini yah rasanya menjadi kaum minoritas di negeri kaisar-kaisar meiji ini.
Sholat sudah ku tunaikan. Kami pun sudah di minta berkumpul di ruangan kelas yang berada di lantai 1, letaknya dekat dengan lobby AIDAI MUSE. Sebentar lagi opening ceremony oleh Rektor Ehime University akan segera di mulai. Oso sensee menanyakan keadaan kami sejauh ini tinggal di Matsuyama dan meminta agar kami menjaga kesehatan dengan baik. Banyak-banyak makan jeruk, harus makan jeruk setiap hari untuk menjaga kondisi tubuh, pesan sensee. Setelah wejangan-wejangan dari beliau, kami pun menuju ke sebuah gedung di bagian depan kampus. Tampaknya gedung rektorat Ehime University. kami menuju ke lantai 2, di sebuah ruangan telah hadir beberapa orang yang sibuk mempersiapkan segala tetek bengek opening ceremony. Sebuah spanduk berwarna putih polos terpampang di depan ruangan. Polos tanpa gambar dan ilustrasi apapun. Cerminan karakter orang Jepang yang to the point, tanpa basa-basi dan efektif. Kalimat yang tertulis pun hanya “Shikoku Agro Complex Study Program”, “Japanese Language/Culture Study Program” dan “Opening Ceremony”. simple kan???
Ruangan opening ceremony di atur layaknya ruang kuliah. Di depan kelas tersedia sebuah podium. Kami kemudian mengambil tempat duduk masing-masing sambil menunggu rektor Ehime University tiba dan membuka acara tersebut. Khusus untuk acara pembukaan ini, kami peserta dari UNHAS menyiapkan pakaian seragam khusus. Warnanya tentu saja merah, mewakili identitas kampus kami, UNHAS sebagai kampus merah. Motifnya adalah motif khas bugis Makassar, motif kain sutra yang sangat klasik. Sengaja kami menyiapkan semua itu untuk memperkenalkan seni dan budaya Bugis Makassar di sini.
Hujan masih setia mengawal hari ketika rektor Ehime University tiba. Sebelumnya, orang yang akan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup kami selama di Jepang juga sudah tiba. Presiden JASSO, penyedia beasiswa . Tidak perlu menunggu lama, opening ceremony langsung saja di mulai. Ibu Atik, seorang dosen sastra Jepang UGM yang juga ikut dalam program ini mewakili UGM menyampaikan rasa terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada kami. Setali tiga uang dengan ibu Atik, Ang juga menyampaikan hal yang sama, yang tentu saja di sampaikan dalam bahasa Jepang. meski tidak mengerti sama sekali apa yang mereka ucapkan, tapi pasti dalam kesempatan seperti itu setiap orang pasti menyampaikan terima kasih dan perasaannya bisa mengikuti program tersebut.
Oso sensee sebagai koordinator program merasa senang akhirnya bisa menyelenggarakan program ini dan berharap program ini bisa berjalan dengan baik dan memberi hasil yang maksimal. Kira-kira seperti itu isi sambutan beliau yang di sampaikan dalam bahasa Jepang, yang tentu saja di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh MC yang cihui sekali bahasa Inggrisnya..jarang-jarang ada orang Jepang yang bisa begitu fasih ngomong bahasanya Prince William ini..heheheh…
Rektor Ehime University, Professor Yasunobu Yanagisawa menyambut baik program ini dan berharap program ini bisa lebih mempererat hubungan antara Indonesia-Jepang di masa yang akan datang, kira-kira seperti itulah isi kata sambutan pak rektor yang diterjemahkan (lagi) oleh MCnya.
Tak kenal maka tak sayang. Setiap kami di minta memperkenalkan diri, terserah dalam bahasa apapun yang kami kuasai. Sebelumnya aku sudah berusaha menghapalkan kata-kata yang biasa di ucapkan untuk memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang. Watashi wa kurni desu, Hasanuddin daigaku no kara, douzo yoroshiku onegashimasu (Kenalkan, saya kurni dari Universitas Hasanuddin, mohon bantuannya). Saya senang mendengar orang asing bisa berbicara dalam bahasa Indonesia, dan pasti begitu pun bagi mereka. karena itu, sebagai appresiasi terhadap bahasa dan budaya mereka, saya pun berusaha memperkenalkan diri dalam bahasa mereka.
Phinisi sebagai salah satu identitas budaya bahari suku Makassar, kami perkenalkan melalui souvenir yang kami berikan kepada pihak Universitas Ehime dan JASSO sebagai tanda persahabatan dari almamater kami, Universitas Hasanuddin. Miniatur perahu Phinisi yang kami bawa dari Indonesia, saya serahkan kepada Rektor Universitas Ehime mewakili teman-teman dari UNHAS. Souvenir yang sama juga kami berikan kepada presiden JASSO dan Osozawa Sensee.
Tidak boleh ada satu pun momen yang terlewatkan tanpa dokumentasi yang baik. Begitupun opening ceremony hari ini. Sehingga bisa di pastikan ketika opening ceremony telah selesai, belasan kamera mengabadikan gambar-gambar kami bersama rektor Ehime University, Osozawa Sensee, Ruth Sensee dan staff Institute of International Relations Ehime University.
Matsuyama masih terguyur hujan ketika jam menunjukkan pukul 2. 45 siang menjelang sore. Kami kembali ke gedung AIDAI MUSE untuk beberapa pengarahan mengenai jadwal kegiatan kami selama di sini. Ruangan kelas di lantai 1 AIDAI MUSE menjadi begitu crowded dengan keberadaan kami di sana. Kadar kenarsisan semua orang sepertinya meningkat tajam sejak tiba di Jepang. kamera-kamera kami tidak pernah berhenti membidik dan mengabadikan momen-momen yang ada. dari ekspresi yang paling manis sampai yang paling gokil. Semuanya, terekam dengan baik di memori kamera dan otak kami. Tak akan ada sedetik pun dari waktu yang kami lewati di sini akan terlupakan oleh kami.
Asuransi, merupakan keharusan bagi kami sebagai jaminan keselamatan dan kemananan selama menghuni Negeri matahari terbit ini. Kami di minta untuk mengisi formulir asuransi dan membayar biaya jaminan asuransi sebesar 2000 yen. Asuransi penting bagi kami. bukannya berharap akan terjadi sesuatu, tapi kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Kami akan mengunjungi begitu banyak tempat selama kami di sini, dan asuransi akan menjamin kami akan berada dalam tanggung jawab pemerintah Jepang selama kami berada di sini.
Asuransi beres, proses selanjutnya akan menjadi urusan pihak Institute of International Relations. Selanjutnya, kami dibagikan jadwal kegiatan selama 2 bulan program ini. Cukup padat namun pastinya akan menyenangkan. 3 minggu pertama kami di sini akan diisi dengan kelas bahasa Jepang dan Japanese Culture. Khusus untuk Japanese Culture, Ruth Sensee akan menjadi sensee kami satu-satunya. Dan di akhir program kelas bahasa Jepang kami akan ada final test layaknya kuliah. Kelas bahasa Jepang dibagi menjadi 2 kelas, kelas A dan kelas B. Peserta kelas A adalah teman-teman dari jurusan non sastra Jepang, sedangkan teman-teman dari Jurusan sastra Jepang akan menempati kelas B. hal ini dilakukan karena perbedaan kemampuan bahasa Jepang di antara kami. teman-teman dari sastra Jepang yang kemampuannya jauh di atas kami tentu saja akan menerima materi kelas dengan level yang berbeda dengan kami.
Welcome party, kunjungan ke beberapa perusahaan,kunjungan ke sekolah dan laboratorium universitas akan mengisi hari-hari kami di satu bulan pertama program ini, selain kelas bahasa Jepang dan Japanese culture. Bulan ke dua akan kami lewati dengan melanjutkan kunjungan ke beberapa perusahaan, homestay dan magang di beberapa tempat di luar kota, beberapa kuliah dan kelas khusus serta Sehari Bersama Indonesia. Seiyo City, Kihoku Town dan Kochi University akan menjadi tujuan utama kami di bulan maret nanti. Final presentation dan closing ceremony akan menjadi penutup kegiatan kami di bulan Maret. Tapi, tidak hanya itu. April akan kami isi dengan jalan-jalan ke beberapa kota di pulau utama Honshu sebelum meninggalkan Jepangs. Di jadwal tertulis kota Oshima, Hiroshima, Nara dan kota paling indah di Jepang….Kyoto!!!!
Meski tidak sederas sebelumnya, namun hujan masih meninggalkan jejak-jejak gerimis di kota Matsuyama saat kami beranjak meninggalkan AIDAI MUSE menuju apato kami masing-masing. temperature sore ini benar-benar ekstrem, di tambah lagi dengan hujan yang mengguyur. Dengan langkah terburu-buru kami menapaki jalan yang kami lewati siang tadi, berlomba dengan suhu dingin yang semakin mengigit.
“Kuatlah kurni, suhu dingin ini bukan apa-apa jika di bandingkan dengan kesempatan yang Allah berikan kepadamu, dengan semua pengalaman dan ilmu yang akan kamu peroleh di sini, tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti dirimu, tidak semua orang bisa merasakan dingin yang membekukan seperti ini, jadi nikmatilah”..kataku pada diriku sendiri.
Ganbatte Kudasai….!!!!
Hyaku En Shop

Hyaku En Shop

Jasso Students and  All Sensee

Jasso Students and All Sensee

 

 

Re-publish from facebook notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s